3 siswa SMP di Jawa Tengah menampar, menendang teman sekelas perempuan di kelas

Tiga siswa pria ⁠ — diidentifikasi dengan inisial mereka sebagai TP 16 tahun, DF 15 tahun, dan UH ⁠ — telah didakwa melanggar Undang-Undang Perlindungan Anak Indonesia, yang dijatuhi hukuman maksimal tiga tahun tahun dan enam bulan penjara. Korban, yang diidentifikasi sebagai CA berusia 16 tahun dan dilaporkan cacat, menderita memar di sisi kanan pinggangnya akibat serangan itu. Polisi di Purworejo masih menginterogasi beberapa orang sebagai saksi, termasuk F, siswa yang mencatat serangan itu.

Sebuah video dari tiga siswa laki-laki SMP yang menyerang teman sekelas perempuan mereka yang tidak berdaya telah menyebar di media sosial.

 

 

Tercatat di dalam ruang kelas, korban terlihat menangis kesakitan di kursinya ketika para penyerang menendang dan memukulnya dengan tangan dan sapu terbang. Tiga siswa laki-laki tampaknya menikmati intimidasi gadis itu, dan tawa juga terdengar berasal dari teman sekelas lainnya di belakang kamera.

Peristiwa itu terjadi di SMP Muhammadiyah Butuh, sebuah sekolah Islam swasta di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Seorang guru di sekolah itu, yang bernama Tutik, mengatakan intimidasi terjadi di dalam kelas 8 sementara tidak ada guru yang hadir.

Tutik mengatakan ketiga siswa laki-laki itu termasuk murid paling nakal di sekolah.

“Ya, anak-anak bermasalah, mereka juga memindahkan siswa dari sekolah lain,” kata Tutik kepada Detik hari ini.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo telah melangkah dalam masalah ini setelah mendengar keprihatinan dari masyarakat.

“Akun Twitter saya dibanjiri [oleh laporan] tentang insiden di sekolah menengah pertama di Butuh Purworejo. Saya telah memanggil kepala sekolah dan itu sudah diurus. Polisi juga telah menerima laporan itu. Besok saya akan meminta pengawas dan agen sekolah untuk berbicara dengan orang tua siswa. Saya juga telah menghubungi bupati Purworejo. Cintai temanmu! ” Ganjar tweet tadi malam.

Polisi Purworejo menangkap tiga tersangka pelaku intimidasi tadi malam untuk diinterogasi. Belum diketahui hukuman apa yang bisa mereka hadapi. Sementara itu, belum ada laporan tentang cedera fisik yang diderita oleh gadis itu, yang telah menjauh dari sorotan media setelah video menjadi viral.

Seperti banyak negara lain, ada budaya intimidasi yang kuat di antara anak-anak sekolah di Indonesia yang dapat membuat para korban merasa tertekan di atas rasa sakit fisik. Pada 2015, sebuah studi oleh Kementerian Sosial menunjukkan bahwa 40 persen kasus bunuh diri anak di Indonesia adalah akibat dari intimidasi.